
Auguste Comte adalah seorang filsuf Perancis yang dikenal karena memperkenalkan bidang ilmu sosiologi serta aliran positivisme. Melalui prinsip positivisme, Comte membangun dasar yang digunakan oleh akademisi saat ini yaitu pengaplikasian metode ilmiah dalam ilmu sosial sebagai sarana dalam memperoleh kebenaran.
Auguste Comte disebut
sebagai Bapak Sosiologi karena dialah yang pertama kali memakai istilah
sosiologi dan mengkaji sosiologi secara sistematis, sehingga ilmu tersebut
melepaskan diri dari filsafat dan berdiri sendiri sejak pertengahan abad ke-19
(1856).
Biografi Aguste Comte
Auguste Comte yang memiliki nama lengkap Isidore Auguste Marie Francois Xavier Comte dilahirkan di Montpellier Prancis Selatan pada 19 Januari 1798. Dia berasal dari keluarga pegawai negeri yang beragama Katolik. Setelah bersekolah ditempat kelahirannya, ia melanjutkan pendidikannya di Ecole Polytechnique di Paris tahun 1814.
Ecole Polytechnique
saat itu terkenal dengan kesetiaannya kepada idealis republikanisme dan filosofi
proses. Pada tahun 1818, politeknik tersebut ditutup untuk re-organisasi. Comte
pun meninggalkan Ecole dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran di
Montpellier.
Tak
lama kemudian, ia melihat sebuah perbedaan yang mencolok antara agama Katolik
yang ia anut dengan pemikiran keluarga monarki yang berkuasa sehingga ia
terpaksa meninggalkan paris. Kemudian pada bulan Agustus 1817 dia menjadi murid
sekaligus sekretaris dari Claude Henri de Rouvroy, Comte de Saint-Simon, yang
kemudian membawa Comte masuk ke dalam lingkungan intelek. Pada tahun 1824,
Comte meninggalkan Saint-Simon karena lagi-lagi ia merasa ada ketidakcocokan
dalam hubungannya.
Baca juga : Mengenal Teori karl marx
Ia kemudian menikahi seorang wanita bernama Caroline Massin. Comte dikenal arogan, kejam dan mudah marah sehingga pada tahun 1826 dia dibawa ke sebuah rumah sakit jiwa, tetapi ia kabur sebelum sembuh. Kemudian setelah kondisinya distabilkan oleh Massin, dan ia mengerjakan kembali apa yang dulu direncanakannya.
Namun sayangnya, ia bercerai dengan Massin pada tahun 1842 karena alasan yang belum diketahui. Saat-saat di antara pengerjaan kembali rencananya sampai pada perceraiannya, ia mempublikasikan bukunya yang berjudul Le Cours de Philosophie Positivistic.
Pada
tahun 1844, Comte menjalin kasih dengan Clotilde de Vaux, dalam hubungan yang tetap
platonis. Setelah Clotilde wafat, kisah cinta ini menjadi quasi-religius. Tak
lama setelahnya, Comte menerbitkan bukunya yang berjudul Système de politique
positive (1851 - 1854).
Comte wafat di Paris pada tanggal 5 September 1857 dan dimakamkan di Cimetière du Pere Lachaise.
Baca juga : sejarah gereja katedral, gereja pertama di katolik
Teori Sosiologi Comte : Hukum Tiga Tahap
Secara umum Comte membagi kajian sosiologi
kedalam dua bagian besar. Pertama, Social statics yang membahas soal
hukum-hukum aksi dan reaksi yang terjadi dalam sistem sosial. Kedua, Social
dynamic yang membahas soal teori tentang perkembangan dan kemajuan masyarakat.
Kedua pembagian diatas saling terkait sebab
social statics adalah bagian yang paling dasar. Meskipun paling dasar social
statics bukan bagian terpenting dari sosiologi. Bagian terpentingnya adalah
social dynamic sebab masyarakat terus berkembang dan berubah sesuai dengan
faktor eksternal yang mempengaruhinya. Artinya pembagian diatas tidak berarti
memisahkan pembahasan satu sama lain.
Di lain sisi Comte berpendapat bahwa
masyarakat akan terus mengalami perkembangan namun perjalanan perkembangan
tersebut tidak selamanya berjalan lancar. Ada banyak faktor eksternal yang akan
menghambat perkembangan masyarakat seperti ras, politik, ekonomi dan budaya.
Hal itu mengakibatkan perkembangan sosial harus dicari karakteristiknya.
Alhasil Comte mengajukan teori hukum tiga tahap tentang intelegensi manusia
untuk menjadi karakteristik.
Lebih spesifik teori hukum tiga tahap Auguste
Comte dalam teori perubahan sosial diklasifikasikan kedalam tiga tahap. Tahapan
pertama yakni tahapan teologis, tahapan kedua metafisis dan tahapan ketiga
positif.
Baca juga : Sejarah Perkembangan Ilmu Sosiologi dari Yunani hingga Era Modern
- Tahapan
Teologis
Tahap teologis adalah tahapan dimana manusia
masih beranggapan bahwa semua benda di dunia ini memiliki kekuatan
supranatural. Pemikiran inilah yang digunakan masyarakat sebelum tahun 1300 M
untuk menjelaskan segala fenomena yang terjadi sehingga terkesan tidak
rasional.
Dalam tahap teologis terdapat tiga
kepercayaan yang dianut masyarakat yakni pertama fetisisme, kedua dinamisme dan
ketiga animisme. Fetisisme adalah kepercayaan akan adanya kekuatan sakti dalam
benda tertentu. Dinamisme adalah kepercayaan yang menganggap alam semesta ini
mempunyai jiwa sedangkan animisme adalah kepercayaan yang mempercayai dunia
sebagai kediaman roh-roh atau bangsa halus.
Ada juga pandangan lain soal politeisme dan
monoteisme. Politeisme adalah bentuk kepercayaan yang mengakui adanya lebih
dari satu Tuhan atau menyembah dewa(banyak dewa) sedangkan monoteisme
kepercayaan bahwa Tuhan adalah satu/tunggal dan berkuasa penuh atas segala
sesuatu.
sebagai ilustrasi yakni Ketika ada fenomena gerhana bulan masyarakat pada tahap teologis ini mengangap bulan telah dimakan Butho (Raksasa Jahat).
- Tahap
metafisik
Tahap metafisik adalah tahapan dimana
masyarakat percaya bahwa kekuatan abstrak menentukan kejadian di dunia. Tahapan
metafisik merupakan hasil pergesaran dari tahapan teologis dan terjadi
kira-kira 1300-1800 M.
Pada tahap metafisik ini mulai muncul
konsep-konsep abstrak atau kekuatan abstrak selain tuhan yakni alam. Tahapan
ini mempercayai bahwa segala kejadian di muka bumi adalah hukum alam yang tidak
dapat diubah dan masyarakat mencari penjelasan atas fenomena yang dialami
dengan konsep impersonal abstrak
Sebagai ilustrasi salah satunya adalah banyak
orang yang sudah berpendidikan tinggi namun dia masih percaya pada peramal atau
dukun (dalam kosmologi jawa).
- Tahap
Positivisme
Tahapan positivisme mempercayai bahwa semua
gejala alam atau fenomena yang terjadi dapat dijelaskan secara ilmiah
berdasarkan peninjauan, pengujian dan dapat dibuktikan secara empiris.
Kata positivisme pertama kali dikenalkan oleh Saint Simon teman sekaligus guru Comte. Tahapan ini mempercayai bahwa ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid dan fakta-fakta sejarah yang mungkin dapat menjadi obyek pengetahuan. Dengan demikian positivisme menolak keberadaan segala kekuatan atau subyek di belakang fakta. Menolak segala penggunaan metode diluar yang digunakan untuk menelaah fakta.\
Baca juga : karya dan pemikiran Ibnu Khaldun
Tahap ini menjadikan ilmu pengetahuan
berkembang dan segala sesuatu menjadi lebih rasional. Alhasil tercipta dunia
yang lebih baik karena orang cenderung berhenti melakukan pencarian sebab
mutlak karena Tuhan atau alam. Orang-orang di zaman positivisme lebih
berkonsentrasi pada penelitian terhadap dunia sosial.
Pada tahap positif yang mana akal manusia telah mencapai puncak ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, orang tidak lagi mencari pengetahuan absolut tentang sebab-sebab akhir tapi menanyakan kaitan statis dan dinamis gejala-gejala.
Sebagai ilustrasi adalah jika sakit dan berobat kerumah sakit maka yang menyembuhkan adalah obat, makan dan istirahat teratur bukan karena dewa atau dukun.
Referensi :
https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2014/12/biografi-august-comte-penggagas-ilmu-sosiologi-serta-aliran-positivisme.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Auguste_Comte
https://mudabicara.com/mengenal-teori-hukum-tiga-tahap-auguste-comte/
Chabibi, M. (2019). Hukum Tiga Tahap Auguste Comte dan Kontribusinya terhadap Kajian Sosiologi Dakwah. NALAR: Jurnal Peradaban Dan Pemikiran Islam, 3(1), 14-26.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar