Sabtu, 22 Oktober 2022

Biografi dan Teori Hukum Tiga Tahap Aguste Comte

 


Auguste Comte adalah seorang filsuf Perancis yang dikenal karena memperkenalkan bidang ilmu sosiologi serta aliran positivisme. Melalui prinsip positivisme, Comte membangun dasar yang digunakan oleh akademisi saat ini yaitu pengaplikasian metode ilmiah dalam ilmu sosial sebagai sarana dalam memperoleh kebenaran.

Auguste Comte disebut sebagai Bapak Sosiologi karena dialah yang pertama kali memakai istilah sosiologi dan mengkaji sosiologi secara sistematis, sehingga ilmu tersebut melepaskan diri dari filsafat dan berdiri sendiri sejak pertengahan abad ke-19 (1856).


Biografi Aguste Comte

Auguste Comte yang memiliki nama lengkap Isidore Auguste Marie Francois Xavier Comte dilahirkan di Montpellier Prancis Selatan pada 19 Januari 1798. Dia berasal dari keluarga pegawai negeri yang beragama Katolik. Setelah bersekolah ditempat kelahirannya, ia melanjutkan pendidikannya di Ecole Polytechnique di Paris tahun 1814.


Ecole Polytechnique saat itu terkenal dengan kesetiaannya kepada idealis republikanisme dan filosofi proses. Pada tahun 1818, politeknik tersebut ditutup untuk re-organisasi. Comte pun meninggalkan Ecole dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran di Montpellier.

Tak lama kemudian, ia melihat sebuah perbedaan yang mencolok antara agama Katolik yang ia anut dengan pemikiran keluarga monarki yang berkuasa sehingga ia terpaksa meninggalkan paris. Kemudian pada bulan Agustus 1817 dia menjadi murid sekaligus sekretaris dari Claude Henri de Rouvroy, Comte de Saint-Simon, yang kemudian membawa Comte masuk ke dalam lingkungan intelek. Pada tahun 1824, Comte meninggalkan Saint-Simon karena lagi-lagi ia merasa ada ketidakcocokan dalam hubungannya.

Saat itu, Comte mengetahui apa yang ia harus lakukan selanjutnya: meneliti tentang filosofi positivisme. Rencananya ini kemudian dipublikasikan dengan nama Plan de travaux scientifiques nécessaires pour reorganiser la societe (Rencana studi ilmiah untuk pengaturan kembali masyarakat) pada tahun 1822. Tetapi ia gagal mendapatkan posisi akademis sehingga menghambat penelitiannya. Kehidupan dan penelitiannya kemudian mulai bergantung pada sponsor dan bantuan finansial dari beberapa temannya.

Baca juga : Mengenal Teori karl marx

Ia kemudian menikahi seorang wanita bernama Caroline Massin. Comte dikenal arogan, kejam dan mudah marah sehingga pada tahun 1826 dia dibawa ke sebuah rumah sakit jiwa, tetapi ia kabur sebelum sembuh. Kemudian setelah kondisinya distabilkan oleh Massin, dan ia mengerjakan kembali apa yang dulu direncanakannya.

Namun sayangnya, ia bercerai dengan Massin pada tahun 1842 karena alasan yang belum diketahui. Saat-saat di antara pengerjaan kembali rencananya sampai pada perceraiannya, ia mempublikasikan bukunya yang berjudul Le Cours de Philosophie Positivistic.

Pada tahun 1844, Comte menjalin kasih dengan Clotilde de Vaux, dalam hubungan yang tetap platonis. Setelah Clotilde wafat, kisah cinta ini menjadi quasi-religius. Tak lama setelahnya, Comte menerbitkan bukunya yang berjudul Système de politique positive (1851 - 1854).

Comte wafat di Paris pada tanggal 5 September 1857 dan dimakamkan di Cimetière du Pere Lachaise.

Baca juga sejarah gereja katedral, gereja pertama di katolik

Teori Sosiologi Comte : Hukum Tiga Tahap

Secara umum Comte membagi kajian sosiologi kedalam dua bagian besar. Pertama, Social statics yang membahas soal hukum-hukum aksi dan reaksi yang terjadi dalam sistem sosial. Kedua, Social dynamic yang membahas soal teori tentang perkembangan dan kemajuan masyarakat.

Kedua pembagian diatas saling terkait sebab social statics adalah bagian yang paling dasar. Meskipun paling dasar social statics bukan bagian terpenting dari sosiologi. Bagian terpentingnya adalah social dynamic sebab masyarakat terus berkembang dan berubah sesuai dengan faktor eksternal yang mempengaruhinya. Artinya pembagian diatas tidak berarti memisahkan pembahasan satu sama lain.

Di lain sisi Comte berpendapat bahwa masyarakat akan terus mengalami perkembangan namun perjalanan perkembangan tersebut tidak selamanya berjalan lancar. Ada banyak faktor eksternal yang akan menghambat perkembangan masyarakat seperti ras, politik, ekonomi dan budaya. Hal itu mengakibatkan perkembangan sosial harus dicari karakteristiknya. Alhasil Comte mengajukan teori hukum tiga tahap tentang intelegensi manusia untuk menjadi karakteristik.

Lebih spesifik teori hukum tiga tahap Auguste Comte dalam teori perubahan sosial diklasifikasikan kedalam tiga tahap. Tahapan pertama yakni tahapan teologis, tahapan kedua metafisis dan tahapan ketiga positif.

Baca juga : Sejarah Perkembangan Ilmu Sosiologi dari Yunani hingga Era Modern

  • Tahapan Teologis

Tahap teologis adalah tahapan dimana manusia masih beranggapan bahwa semua benda di dunia ini memiliki kekuatan supranatural. Pemikiran inilah yang digunakan masyarakat sebelum tahun 1300 M untuk menjelaskan segala fenomena yang terjadi sehingga terkesan tidak rasional.

Dalam tahap teologis terdapat tiga kepercayaan yang dianut masyarakat yakni pertama fetisisme, kedua dinamisme dan ketiga animisme. Fetisisme adalah kepercayaan akan adanya kekuatan sakti dalam benda tertentu. Dinamisme adalah kepercayaan yang menganggap alam semesta ini mempunyai jiwa sedangkan animisme adalah kepercayaan yang mempercayai dunia sebagai kediaman roh-roh atau bangsa halus.

Ada juga pandangan lain soal politeisme dan monoteisme. Politeisme adalah bentuk kepercayaan yang mengakui adanya lebih dari satu Tuhan atau menyembah dewa(banyak dewa) sedangkan monoteisme kepercayaan bahwa Tuhan adalah satu/tunggal dan berkuasa penuh atas segala sesuatu.

sebagai ilustrasi yakni Ketika ada fenomena gerhana bulan masyarakat pada tahap teologis ini mengangap bulan telah dimakan Butho (Raksasa Jahat).

  • Tahap metafisik

Tahap metafisik adalah tahapan dimana masyarakat percaya bahwa kekuatan abstrak menentukan kejadian di dunia. Tahapan metafisik merupakan hasil pergesaran dari tahapan teologis dan terjadi kira-kira 1300-1800 M.

Pada tahap metafisik ini mulai muncul konsep-konsep abstrak atau kekuatan abstrak selain tuhan yakni alam. Tahapan ini mempercayai bahwa segala kejadian di muka bumi adalah hukum alam yang tidak dapat diubah dan masyarakat mencari penjelasan atas fenomena yang dialami dengan konsep impersonal abstrak

Sebagai ilustrasi salah satunya adalah banyak orang yang sudah berpendidikan tinggi namun dia masih percaya pada peramal atau dukun (dalam kosmologi jawa).

  • Tahap Positivisme

Tahapan positivisme mempercayai bahwa semua gejala alam atau fenomena yang terjadi dapat dijelaskan secara ilmiah berdasarkan peninjauan, pengujian dan dapat dibuktikan secara empiris.

Kata positivisme pertama kali dikenalkan oleh Saint Simon teman sekaligus guru Comte. Tahapan ini mempercayai bahwa ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid dan fakta-fakta sejarah yang mungkin dapat menjadi obyek pengetahuan. Dengan demikian positivisme menolak keberadaan segala kekuatan atau subyek di belakang fakta. Menolak segala penggunaan metode diluar yang digunakan untuk menelaah fakta.\

Baca juga : karya dan pemikiran Ibnu Khaldun

Tahap ini menjadikan ilmu pengetahuan berkembang dan segala sesuatu menjadi lebih rasional. Alhasil tercipta dunia yang lebih baik karena orang cenderung berhenti melakukan pencarian sebab mutlak karena Tuhan atau alam. Orang-orang di zaman positivisme lebih berkonsentrasi pada penelitian terhadap dunia sosial.

Pada tahap positif yang mana akal manusia telah mencapai puncak ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, orang tidak lagi mencari pengetahuan absolut tentang sebab-sebab akhir tapi menanyakan kaitan statis dan dinamis gejala-gejala.

Sebagai ilustrasi adalah jika sakit dan berobat kerumah sakit maka yang menyembuhkan adalah obat, makan dan istirahat teratur bukan karena dewa atau dukun.

Referensi :

https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2014/12/biografi-august-comte-penggagas-ilmu-sosiologi-serta-aliran-positivisme.html


https://id.wikipedia.org/wiki/Auguste_Comte


https://mudabicara.com/mengenal-teori-hukum-tiga-tahap-auguste-comte/


Chabibi, M. (2019). Hukum Tiga Tahap Auguste Comte dan Kontribusinya terhadap Kajian Sosiologi Dakwah. NALAR: Jurnal Peradaban Dan Pemikiran Islam3(1), 14-26.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar